Ketika Anak SD di Kota Probolinggo Relakan Jajan Demi Hewan Kurban
Uang jajan anak SD biasanya lenyap di kantin, warung mainan, atau pedagang balon pinggir jalan. Tapi tidak untuk siswa SDN Kedopok 1 Kota Probolinggo. Di momen Hari Raya Idul Adha 2026 ini mereka justru memilih jalan lain. Mereka merelakan setiap.
PROBOLINGGO – Uang jajan anak SD biasanya lenyap di kantin, warung mainan, atau pedagang balon pinggir jalan. Tapi tidak untuk siswa SDN Kedopok 1 Kota Probolinggo. Di momen Hari Raya Idul Adha 2026 ini mereka justru memilih jalan lain. Mereka merelakan setiap receh yang dikantongi untuk ditukar dengan sepotong daging kurban yang nantinya dibagiakan bagi teman dan warga sekitar sekolah yang kurang mampu.
Ini bukan aksi seremonial. Tidak ada rombongan guru yang berteriak memerintah. Tidak ada target nominal yang ditempel di papan pengumuman. Anak-anak kelas 1 sampai kelas 6 itu hanya diminta satu hal, memberi sesuai kemampuan, sukarela dan tanpa tekanan.
“Kami tidak tentukan besaran iuran. Biar anak-anak belajar bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya,” ujar Kepala SDN Kedopok 1, Soviatun Fatimatuzzuhro, kepada TIMES Indonesia, Selasa (26/5/2026)
Dari amplop kelas yang berjalan pelan, dari kumpulan uang saku yang biasanya ludes untuk jajanan, terkumpul Rp2,7 juta. Pihak sekolah lalu menambahkan infak sehingga total menjadi Rp4 juta. Cukup untuk membeli satu hewan kurban yang nantinya akan disembelih di lingkungan sekolah.
Yang membuat aksi ini berbeda,nantinya penerima daging kurban bukan orang asing di kampung lain. Melainkan siswa kurang mampu di sekolah itu sendiri dan warga sekitar yang membutuhkan. Dengan kata lain, mereka memberi untuk tetangga dan teman sebayanya sendiri.
Soviatun menambahkan bahwa kegiatan ini sengaja dibungkus sebagai pembelajaran karakter. “Bukan sekadar iuran. Tapi menanamkan keikhlasan dan kepedulian. Dagingnya nanti kami bagikan ke yang benar-benar membutuhkan.”
Salah satu siswa kelas 6, Ahmad Danis Samsyah, mengaku sudah ikut setiap tahun. Baginya, ini bukan sekadar tradisi, tapi panggilan kecil yang membuatnya sadar akan arti mandiri. “Alhamdulillah, kami iuran setiap tahun. Nanti dagingnya untuk orang yang butuh. Saya jadi belajar bahwa kurban tidak harus ditunggu besar dulu,” katanya polos.
Di tengah gemerlap budaya konsumtif yang menyasar anak-anak, langkah kecil ini seperti teguran. Bahwa kepedulian tidak butuh uang banyak. Cukup kesediaan merelakan jajan, dan percaya bahwa satu ekor hewan kurban dari celengan kelas, mampu memberi makan puluhan perut yang lapar.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

