Pesona Tari Kembang Genggong, Membaca Sejarah Probolinggo Lewat Tarian Kreasi
Di Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, sejarah itu "dibaca" melalui kelenturan tubuh, ayunan selendang, dan hentakan irama musik tradisi
PROBOLINGGO – Sejarah tidak melulu harus dibaca lewat lembaran kertas tua yang berdebu. Di Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, sejarah itu "dibaca" melalui kelenturan tubuh, ayunan selendang, dan hentakan irama musik tradisi.
Adalah Tari Kembang Genggong, sebuah tari kreasi garapan Sanggar Linggih Kecamatan Pajarakan. Di balik keindahan visualnya, tarian ini menyimpan narasi panjang yang merentang dari masa klasik Candi Kentrungan hingga menjadi identitas salah satu pesantren terbesar di Jawa Timur.
Jejak Bunga Kuning di Candi Kentrungan
Inspirasi tarian ini lahir dari sekuntum bunga liar bernama "Genggong". Dalam literatur sejarah lisan masyarakat, bunga ini digambarkan memiliki batang yang halus, lembut, dengan kelopak berwarna kuning alami yang memikat.
Konon, bunga ini pertama kali ditanam di sekitar Candi Buddha atau Candi Kentrungan oleh masyarakat Desa Kambang Rawi—yang kini dikenal sebagai Desa Ketompen. Karena keindahannya, Bunga Genggong memiliki posisi istimewa: ia menjadi hiasan sakral dalam upacara keagamaan, pernikahan, hingga ritual adat di masa lampau.
Nilai historis dan kesakralan inilah yang kemudian membuat nama "Genggong" diabadikan menjadi nama kompleks Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, sebuah simbol transformasi dari kesakralan masa lalu menuju pusat pendidikan agama masa kini.
Filosofi Gadis dan Kesucian Hati
Namun, Tari Kembang Genggong bukan sekadar reka ulang sejarah botani. Sanggar Linggih menyuntikkan nyawa baru ke dalam tarian ini melalui metafora yang mendalam tentang kemuliaan seorang wanita.
Dalam garapan koreografinya, "Kembang" diinterpretasikan sebagai sosok seorang gadis, sementara "Genggong" melambangkan keindahan dan keharuman. Perpaduan ini melahirkan simbol kecantikan yang bersahaja.
Bukan kecantikan fisik semata yang ingin ditonjolkan, melainkan inner beauty—kecantikan yang memancar dari kemurnian hati dan moralitas. Setiap gerakan penari yang gemulai adalah manifestasi dari kesucian tersebut. Tarian ini seolah bertutur: wanita yang mulia adalah ia yang perilakunya seharum bunga, dan hatinya sesuci warna kuning alami Genggong yang tak ternoda.
Harmoni Tradisi dan Kreasi
Di atas panggung, filosofi berat itu diterjemahkan dengan ringan dan indah. Kostum penari yang merupakan modifikasi tradisi lokal mempertegas akar budaya yang kuat, namun tetap relevan dengan estetika panggung modern.
Tari Kembang Genggong adalah bukti bahwa sejarah Desa Ketompen-Karangbong dan filosofi Pesantren Genggong bisa "dikawinkan" dalam satu bingkai seni.
Ia adalah pengingat yang manis, bahwa seperti Bunga Genggong yang dulu menghiasi candi, nilai kesucian dan moralitas harus tetap menjadi hiasan utama dalam jiwa setiap manusia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


