Pipa Usia Puluhan Tahun Pecah, Ribuan Warga Kota Probolinggo Terjebak Krisis Air
Jumat pagi di Kota Probolinggo tak berjalan seperti biasanya. Sejak pukul 08.00 waktu setempat, distribusi air bersih milik Perumdam Bayuangga mati total. Ribuan pelanggan di berbagai wilayah pun mendadak kelimpungan karena tak ada setetes pun air ya
PROBOLINGGO – Jumat pagi di Kota Probolinggo tak berjalan seperti biasanya. Sejak pukul 08.00 waktu setempat, distribusi air bersih milik Perumdam Bayuangga mati total. Ribuan pelanggan di berbagai wilayah pun mendadak kelimpungan karena tak ada setetes pun air yang mengalir dari keran rumah mereka.
Aktivitas rumah tangga mulai dari mandi, memasak, hingga mencuci tersendat. Warga yang biasanya memulai hari dengan air mengalir kini harus berpikir ulang untuk sekadar menyeduh kopi atau membersihkan piring setelah sarapan.
Setelah ditelusuri petugas, sumber masalah ditemukan di jalur utama distribusi. Pipa besar penyuplai air ke seluruh kota pecah akibat pergeseran tanah. Namun faktor alam bukan satu-satunya penyebab. Kondisi pipa yang telah berusia puluhan tahun membuat kerusakan menjadi lebih parah hingga aliran air lumpuh total ke hampir seluruh wilayah kota.
Humas Perumdam Bayuangga, Agus Sugianto, mengakui bahwa usia infrastruktur menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa ditawar lagi. Kerusakan kali ini cukup parah sehingga evakuasi pipa harus menggunakan alat berat pinjaman dari Dinas PUPR Kota Probolinggo.
“Penyebabnya karena faktor alam dan pergeseran tanah. Selain itu usia pipa memang sudah cukup tua, puluhan tahun,” kata Agus saat dikonfirmasi.
Pipa yang pecah ternyata merupakan jalur vital. Karena itu, dampaknya meluas dan hampir tak ada wilayah yang luput dari gangguan. Petugas sejak Jumat siang masih berjibaku di lokasi. Perbaikan terus dilakukan hingga harus lembur dengan harapan suplai air bisa segera kembali mengalir.
“Sekarang masih proses perbaikan dan petugas juga lembur supaya layanan cepat normal kembali,” ujarnya.
Di tengah upaya perbaikan, Perumdam Bayuangga mengaktifkan satu sumur bantuan di Kecamatan Wonoasih sebagai penopang distribusi sementara. Namun debit air dari sumur tersebut dinilai masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan ribuan pelanggan se-Kota Probolinggo.
“Ada sumur di Wonoasih, tapi debitnya masih kurang,” tambah Agus.
Hingga berita ini ditulis, belum ada kepastian kapan distribusi akan kembali normal. Yang jelas, Jumat ini menjadi hari panjang bagi warga Kota Probolinggo yang berharap proses perbaikan bisa rampung secepatnya. Karena air, bagaimanapun, bukan barang mewah. Ia kebutuhan utama yang tak bisa ditunda. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

