Paiton Energy Dorong Sinergi Kampus dan Inovasi Hijau
Paiton Energy dorong sinergi kampus dan inovasi hijau untuk kejar target bauran energi nasional.
Yogyakarta – PT Paiton Energy (PE) mengajak dan memotivasi generasi muda berkontribusi nyata untuk menyukseskan transisi energi melalui inovasi teknologi.
Salah satu produsen listrik swasta terbesar di Indonesia itu juga mendorong agar kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri terus ditingkatkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional yang berkelanjutan.
Dalam Seminar NESCO 2026 bertema “Pioneering Green Solutions: Advancing National Transition Through Renewable Energy” di Universitas Gadjah Mada Sabtu (9/5/2026), President Director Fazil Erwin Alfitri menekankan peran penting generasi muda dalam memanfaatkan perkembangan teknologi, untuk mendorong kemajuan energi hijau dalam kaitan transisi energi dan ketahanan energi yang berkelanjutan.
Fazil Erwin Alfitri mengatakan guna terwujudnya ketahanan energi nasional yang berkelanjutan, transisi energi harus mampu menjaga keseimbangan antara keandalan sistem kelistrikan dengan keterjangkauan tarif bagi masyarakat.
“Transisi energi nasional memerlukan pendekatan terintegrasi yang realistis dan berbasis keandalan. Kami melihat bahwa penguatan fondasi sistem kelistrikan Indonesia dalam satu dekade ke depan sangat bergantung pada sinergi dalam menyelaraskan kebijakan, investasi, serta pengembangan teknologi ramah lingkungan guna mencapai target bauran energi jangka panjang,” kata Fazil.
Diketahui, Indonesia semula mematok target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025. Namun, dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) terbaru, target tersebut mundur ke tahun 2030.
Sementara data 2024 menunjukkan, proporsi EBT dalam energi nasional baru mencapai 14,68%.
Secara terpisah, dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan Mitra Industri bertema “Membangun Perguruan Tinggi yang Relevan dan Berdampak” di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Kamis (7/5/2026), Chief Financial Officer Paiton Energy, Bayu Widyanto menyampaikan, kemitraan perguruan tinggi dan industri merupakan kolaborasi strategis dalam penyiapan sumber daya manusia yang handal dalam mengantisipasi kebutuhan industri yang mendukung Pembangunan nasional.
Menurut Bayu Widyanto, model kolaborasi kampus – industri juga dapat menghasilkan inovasi teknologi yang dibutuhkan untuk bisa mendukung perkembangan kedua pihak, pada saat ini dan masa depan.
“Dunia industri bergerak dinamis, sehingga perguruan tinggi dirasa perlu untuk mampu mengimbangi dinamika yang ada sehingga masukan secara timbal balik hendaknya dilakukan secara berkelanjutan,” katanya.
“Bagi kami, sangat penting bagi mahasiswa sebagai sumber daya industri di masa depan untuk menguasai keterampilan yang diperlukan dan kemampuan untuk agile, fleksibel, dan beradaptasi dengan perkembangan dan kebutuhan. Di sinilah kolaborasi kampus – industri diperlukan,” tambah Bayu.
Diketahui, laporan International Energy Agency (IEA) menyebutkan bahwa transisi energi di Indonesia berpotensi menciptakan hingga 900.000 lapangan kerja baru pada 2030.
Namun, industri masih membayangi kekurangan tenaga ahli di bidang spesifik seperti teknologi fotovoltaik dan manajemen grid pintar. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

