TIMES PROBOLINGGO, JAKARTA – Kontes AI Indonesia 2026 yang digagas TIMES Indonesia bersama KITA AI tidak hanya dibuat sebagai ajang kompetisi kreatif. Kontes ini juga diproyeksikan sebagai pintu masuk lahirnya industri kreatif berbasis avatar AI di Indonesia.
Melalui kategori Miss Avatar AI Indonesia dan Miss AI Muslimah Indonesia, avatar digital diposisikan bukan sekadar visual. Juga sebagai aset intelektual (intellectual property/IP) yang bernilai ekonomi.
Dalam era ekonomi digital, avatar AI mulai digunakan sebagai identitas virtual, duta merek, konten kreator digital, hingga medium storytelling lintas platform. "Nah, Kontes AI Indonesia membaca peluang tersebut sejak dini dengan mendorong kreator menciptakan karakter AI yang orisinal, konsisten, dan berkarakter kuat," jelas Peneliti AI sekaligus Co-Founder KITA AI, Theofany Aulia S.Ikom., M.Cs.AI.
Ia menilai, avatar AI akan menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem ekonomi kreatif global.
“Avatar AI bukan sekadar hasil visual. Ia bisa berkembang menjadi identitas digital, brand persona, bahkan IP yang berkelanjutan jika dirancang dengan narasi dan karakter yang kuat,” ujar Theofany.
Avatar AI sebagai Intellectual Property
Berbeda dengan konten AI instan yang mudah ditiru, Kontes AI Indonesia mewajibkan peserta menciptakan Original Character (OC) dengan konsistensi wajah dan konsep. Pendekatan ini selaras dengan prinsip pengembangan IP dalam industri kreatif.
Menurut Theofany, karakter yang konsisten dan orisinal membuka peluang komersialisasi jangka panjang, mulai dari konten visual, animasi, hingga kolaborasi brand.
“Kalau avatarnya kuat secara identitas, ia bisa hidup lintas platform dan lintas waktu. Itu esensi IP,” jelasnya.
Ekonomi Kreatif AI dan Peluang Generasi Muda
CTO TIMES Indonesia National Network sekaligus Co-Founder KITA AI, Bagus Satriawan, menyebut Kontes AI Indonesia sebagai eksperimen awal membangun rantai nilai industri kreatif AI di Indonesia.
“Kami ingin kontes ini tidak berhenti di panggung penghargaan. Harapannya, karya-karya terbaik bisa berkembang menjadi portofolio, IP, bahkan bisnis kreatif berbasis AI,” kata Bagus.
Ia menambahkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki modal kreativitas dan literasi digital yang besar, tinggal diarahkan ke ekosistem yang tepat dan beretika.
Dari Kreativitas ke Ekosistem
Melalui Kontes AI Indonesia, TIMES Indonesia berupaya membangun jembatan antara kreativitas individu dan ekosistem industri. Media berperan sebagai kurator, promotor, sekaligus inkubator gagasan kreatif berbasis AI.
Pendekatan ini membuka ruang kolaborasi dengan berbagai sektor, mulai dari industri kreatif, fashion digital, media, hingga teknologi. Avatar AI yang lahir dari kontes ini berpotensi tampil dalam pameran digital, kampanye kreatif, atau proyek lintas platform.
Di tingkat global, avatar AI mulai menjadi bagian dari ekonomi digital masa depan. Dengan kekayaan budaya dan talenta kreatif yang dimiliki, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tidak sekadar menjadi pasar, tetapi produsen avatar AI berkarakter lokal.
Bagus menegaskan bahwa nilai budaya tetap menjadi fondasi utama. “Industri kreatif AI Indonesia harus tumbuh dengan identitasnya sendiri. Avatar AI kita harus punya karakter Nusantara, bukan sekadar meniru tren global,” ujarnya.
Melalui Miss Avatar AI Indonesia dan Miss AI Muslimah Indonesia, panitia Kontes AI Indonesia ingin memastikan bahwa masa depan industri kreatif AI di Tanah Air dibangun di atas orisinalitas, etika, dan kekayaan budaya lokal. Dari sebuah kontes, lahir peluang besar menuju ekosistem kreatif digital yang berdaya saing dan berkelanjutan. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Dari Kontes AI Indonesia, Avatar AI Diproyeksikan Jadi Aset Digital
| Pewarta | : Theofany Aulia (DJ-999) |
| Editor | : Deasy Mayasari |