TIMES PROBOLINGGO, PROBOLINGGO – Di ruang redaksi, kata-kata tidak sekadar disusun; ia dipilih, ditimbang, lalu dilepaskan ke publik seperti burung yang membawa pesan. Editorial, sebagai mahkota sebuah media, seharusnya menjadi suara nurani: penunjuk arah ketika kabut informasi menebal. Namun, tidak jarang, mahkota itu berubah menjadi penutup mata bukan untuk melihat lebih jernih, melainkan untuk mengaburkan apa yang seharusnya terang.
Editorial memiliki kekuasaan yang sunyi tetapi menentukan. Ia tidak berteriak seperti headline sensasional, tetapi bisikannya dipercaya sebagai sikap resmi media. Dalam beberapa baris yang tampak tenang, opini publik dapat digiring, dipeluk, atau justru dijauhkan dari sebuah persoalan. Di sinilah ironi bermula: ketika editorial tidak lagi menjadi lampu, melainkan tirai.
Menutup isu tidak selalu dilakukan dengan kebohongan telanjang. Ia sering hadir dalam bentuk yang lebih sopan: pengaburan konteks, pengerdilan masalah, atau pemilihan sudut pandang yang terlalu “netral” hingga kehilangan keberpihakan pada kebenaran. Isu besar dikecilkan, luka publik dibedaki, konflik struktural diringkas menjadi sekadar salah paham.
Media lalu berbicara tentang stabilitas, tentang menjaga suasana, tentang tidak memperkeruh keadaan. Kalimat-kalimat itu terdengar bijak, tetapi kerap menjadi selimut tebal bagi persoalan yang justru membutuhkan udara segar. Dalam nama ketenangan, kegelisahan rakyat diparkir di halaman belakang pemberitaan.
Ada editorial yang lahir bukan dari suara publik, melainkan dari ruang rapat yang lebih sunyi: ruang kepentingan. Di sana, angka iklan, relasi politik, dan akses kekuasaan duduk sejajar dengan idealisme jurnalistik. Kata-kata disetrika agar tidak menyinggung, paragraf dilunakkan agar tidak mengguncang, dan kritik dipendekkan agar tidak meninggalkan bekas.
Maka, isu yang seharusnya menjadi alarm, berubah menjadi lagu pengantar tidur. Skandal menjadi “dinamika”, penindasan menjadi “tantangan kebijakan”, dan kegagalan sistem disulap menjadi “perlu evaluasi bersama”. Bahasa kehilangan giginya, dan editorial kehilangan taringnya.
Publik pun sering tidak sadar bahwa mereka sedang diajak berdamai dengan ketidakadilan. Mereka membaca dengan tenang, mengangguk pelan, lalu melanjutkan hari. Padahal, di balik ketenangan itu, ada fakta yang tidak selesai, ada korban yang tidak sempat disebut, ada tanggung jawab yang sengaja dikaburkan.
Editorial semacam ini bekerja seperti kabut pagi: tidak mematikan pandangan sepenuhnya, tetapi cukup untuk membuat gunung tampak seperti bukit, dan jurang tampak seperti cekungan biasa. Bahaya tidak dihilangkan, hanya dibuat terlihat jinak.
Ironisnya, media sering mengklaim berdiri di tengah. Netralitas dijadikan jubah suci, padahal tidak semua tengah adalah adil. Dalam perkara kemanusiaan, berdiri di tengah antara penindas dan yang tertindas sering kali berarti memunggungi yang terluka. Editorial yang takut memihak kebenaran akhirnya hanya setia pada kenyamanan.
Di sinilah publik perlu belajar membaca dengan kecurigaan yang sehat. Bukan untuk membenci media, tetapi untuk menyadari bahwa setiap kalimat memiliki kepentingan, setiap diam punya makna, dan setiap isu yang tidak diangkat adalah pilihan editorial, bukan kebetulan.
Media sejatinya bukan sekadar cermin, tetapi juga lentera. Ia tidak hanya memantulkan realitas, tetapi menerangi sudut yang gelap. Ketika editorial memilih menutup isu, ia sedang mematikan sebagian cahaya itu. Ruang publik menjadi remang, dan demokrasi berjalan seperti orang rabun di persimpangan jalan.
Bukan berarti media harus menjadi provokator, tetapi keberanian menyebut masalah dengan nama aslinya adalah bentuk tanggung jawab. Kritik bukan ancaman bagi negara, melainkan vaksin bagi kekuasaan agar tidak sakit terlalu parah.
Editorial yang sehat tidak menenangkan secara palsu, tetapi menggelisahkan secara jujur. Ia membuat pembaca berpikir, bukan sekadar merasa aman. Ia membuka luka agar bisa diobati, bukan menutupnya dengan perban kotor bernama stabilitas.
Ketika media berhenti menyuarakan yang disembunyikan, maka yang tersisa hanyalah panggung yang rapi di depan, sementara kekacauan disimpan di balik tirai. Dan di situlah publik perlahan belajar hidup dalam sunyi yang diproduksi, bukan dipilih.
Sebab yang paling berbahaya bukanlah kebohongan yang keras, melainkan kebenaran yang sengaja dilembutkan hingga kehilangan bentuk. Dan editorial, jika lupa pada nuraninya, dapat menjadi seniman paling piawai dalam seni membungkam.
***
*) Oleh : Abdur Rahmad, Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |