Terperangkap Ilusi Digital
TIMES Probolinggo/Nurul Huda, Dosen Filsafat S1-S2 Universitas Nurul Jadid.

Terperangkap Ilusi Digital

Tragedi MBA di Probolinggo bukan semata soal uang yang hilang, melainkan tentang nalar yang lengah di tengah zaman ketika layar lebih dipercaya daripada logika.

TIMES Probolinggo,Minggu 15 Februari 2026, 13:06 WIB
1K
H
Hainor Rahman

ProbolinggoSejumlah warga Probolinggo baru saja terbangun dari mimpi buruk. Mereka menggeruduk rumah para koordinator aplikasi MBA, bahkan ada yang langsung meluruk ke kantor MBA di beberaa daerah luar probolinggo, setelah uang yang mereka tanamkan mendadak menguap tanpa jejak. Data dari berbagai media mencatat, kerugian korban tak kecil: mulai Rp 1 juta hingga tembus lebih dari Rp 20 juta per orang. 

Kisah ini sejatinya bukan barang baru. Ini cerita lama dengan kemasan baru: penipuan berkedok investasi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kini ikut menyoroti aplikasi yang sempat nangkring manis di Playstore itu. Polanya klasik yakni menggunakan skema ponzi: modus penipuan investasi yang membayar keuntungan kepada investor lama menggunakan uang dari investor baru, bukan dari laba sah yang dihasilkan perusahaan. 

Namun perkara ini tak semata soal uang yang raib. Ada yang lebih mengkhawatirkan ikut hilang: daya rasa dan daya nalar. Fenomena MBA di Probolinggo bukan hanya soal kegagalan literasi finansial, melainkan potret buram manusia digital yang pelan-pelan kehilangan kepekaan dan kejernihan berpikir. 

Ketika Citra Menelan Realitas 

Mari kita mulai dari pertanyaan mendasar: realitas apa yang sebenarnya ditawarkan aplikasi MBA? Aplikasi ini menjual sebuah dunia di mana uang seolah-olah bisa beranak pinak dalam hitungan hari. Dua kali lipat, tiga kali lipat, tanpa kerja keras, tanpa proses panjang, tanpa risiko yang masuk akal.

Dalam bahasa filsafat, ini adalah tawaran untuk melompati realitas. Manusia sejatinya adalah makhluk yang terus “menjadi” (becoming) melalui proses, disiplin, dan ketekunan. Namun aplikasi seperti MBA menawarkan jalan pintas menuju keberadaan (eksistence) instan yang palsu. Ia menjual fantasi bahwa kekayaan bisa diraih tanpa pengorbanan, tanpa kerja keras, tanpa waktu lama.

Di titik inilah pandangan Jean Baudrillard menjadi relevan. Dalam teorinya tentang simulasi dan simulacra, Baudrillard menjelaskan bagaimana masyarakat modern tidak lagi hidup dalam realitas yang apa adanya, melainkan dalam dunia tanda dan citra yang meniru realitas bahkan menggantikannya. 

Simulacra adalah tiruan tanpa referensi asli; ia tampak nyata, tetapi sesungguhnya kosong. Inilah yang disebut Baudrillard sebagai hiperrealitas: ketika yang palsu justru terasa lebih meyakinkan daripada yang nyata.

Aplikasi MBA bekerja dalam logika simulasi: tampilan digital yang rapi, grafik keuntungan yang selalu menanjak, testimoni yang masif di grup WhatsApp, serta narasi sukses yang viral di media sosial. Semua itu membangun kesan stabil dan menguntungkan, padahal yang diproduksi bukanlah aktivitas ekonomi riil, melainkan ilusi keuntungan. 

Angka-angka di layar berdiri sendiri, tak terhubung pada produksi barang atau jasa apa pun. Masyarakat Probolinggo yang tergiur keuntungan cepat sesungguhnya sedang ditarik masuk ke dalam realitas semu, di mana uang seolah tumbuh dari “pohon digital” dan layar ponsel menjelma menjadi altar baru tempat menaruk harapan.

Namun, seperti diingatkan Baudrillard, simulasi tak pernah kokoh karena ia berdiri di atas ilusi. Ketika aplikasi tak bisa diakses, bonus tak cair, dan admin menghilang tanpa jejak, tirai hiperrealitas itu runtuh seketika. Yang tersisa bukan grafik keuntungan, melainkan utang yang menumpuk, relasi sosial yang retak, dan rasa malu yang menghantui para korban.

Di sinilah tragedinya. Yang runtuh bukan hanya sebuah aplikasi, tetapi kepercayaan. Yang hancur bukan sekadar investasi, melainkan fondasi rasionalitas ekonomi warga. Realitas yang selama ini disangkal bahwa tidak ada kekayaan tanpa kerja datang kembali dengan cara yang paling menyakitkan.

Persoalan MBA bukan semata soal penipuan digital. Ia adalah cermin tentang bagaimana masyarakat mudah terbuai oleh citra dan janji instan. Di era ketika layar lebih dipercaya daripada logika, simulasi sering kali terasa lebih nyata daripada kenyataan. Dan ketika kesadaran kritis tumpul, hiperrealitas akan selalu menjadi pilihan.

Kolonialisme di Era Algoritma 

Meski demikian, kita tak bisa serta-merta menyalahkan korban. Dalam perspektif Baudrillard, masyarakat memang hidup dalam banjir tanda dan citra yang terus-menerus memproduksi keinginan. Aplikasi MBA hanyalah salah satu produk dari lanskap kapitalisme digital yang lihai membaca hasrat manusia.

Di baliknya ada aktor-aktor yang merancang jaring laba-laba digital dengan presisi. Mereka tidak datang membawa senjata, tetapi membawa aplikasi. Mereka tidak menaklukkan wilayah secara fisik, tetapi mengkoloni kesadaran melalui notifikasi, grafik keuntungan, dan narasi “cuan tanpa batas”.

Berbeda dengan kolonialisme klasik yang bersandar pada kekuatan militer, kolonialisme digital bekerja melalui algoritma dan psikologi. Mereka tahu manusia ingin kaya cepat. Mereka tahu masyarakat yang terdesak ekonomi mudah tergoda janji instan. Maka sistem dirancang sedemikian rupa untuk memenuhi kerentanan itu—lalu memonetisasinya.

Ketika aplikasi hilang dari Playstore, nomor tak lagi aktif, dan kantor digeruduk para member, itu hanyalah ujung dari mata rantai panjang eksploitasi digital. Mereka yang berada di puncak rantai mungkin telah menikmati miliaran rupiah. Sementara korban di Probolinggo dan berbagai daerah lain harus menanggung luka finansial sekaligus psikologis.

Kasus MBA bukan sekadar soal investasi bodong. Ia adalah cermin zaman: ketika simulasi lebih dipercaya daripada kerja nyata, ketika citra lebih memikat daripada proses, dan ketika solidaritas sosial bisa runtuh oleh iming-iming komisi. Tanpa kesadaran kritis dan penguatan etika bersama, hiperrealitas semacam ini akan terus menemukan panggung dan korbannya.

Menyalakan Lagi Akal Sehat

Upaya pencegahan harus dimulai dari penguatan literasi finansial yang dibarengi literasi kritis digital. Masyarakat perlu disadarkan bahwa tak ada keuntungan tanpa risiko dan proses. Edukasi mengenai ciri-ciri skema ponzi serta pentingnya mengecek legalitas investasi melalui Otoritas Jasa Keuangan harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, bukan sekadar imbauan sesaat ketika korban sudah berjatuhan.

Di saat yang sama, pengawasan terhadap platform digital perlu diperketat. Negara tak boleh kalah cepat dari para pelaku yang lihai memanfaatkan celah teknologi. Kolaborasi antara regulator, aparat penegak hukum, dan penyedia aplikasi menjadi kunci untuk mendeteksi serta menutup ruang gerak skema serupa sejak dini.

Tak kalah penting, solidaritas sosial harus dipulihkan. Relasi pertemanan dan kekeluargaan jangan direduksi menjadi jejaring komisi yang saling merekrut. Budaya saling mengingatkan dan saling menjaga mesti lebih kuat daripada godaan keuntungan instan yang justru meretakkan kepercayaan.

Tragedi MBA di Probolinggo bukan semata soal uang yang hilang, melainkan tentang nalar yang lengah di tengah zaman ketika layar lebih dipercaya daripada logika. Aplikasi itu mungkin telah hilang, tetapi selama mentalitas instan tetap dipelihara, skema serupa akan selalu menemukan wajah barunya.

Karena itu, yang harus dibangun bukan hanya regulasi, melainkan kesadaran kritis sebab masyarakat yang kuat bukanlah yang tak pernah tertipu, melainkan yang belajar dan tak bersedia tertipu untuk kedua kalinya. (*)

***

*) Oleh : Nurul Huda, Dosen Filsafat S1-S2 Universitas Nurul Jadid.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Hainor Rahman
|
Editor:Hainorrahman

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Kabupaten/Kota Probolinggo, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.