TIMES PROBOLINGGO, PROBOLINGGO – Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, ada satu perjalanan yang justru ditempuh dengan langkah pelan dan hati menunduk: ziarah ke makam para ulama. Jalanan menuju Bangkalan tak pernah benar-benar lengang dari peziarah yang ingin sowan ke makam Syaikhona Kholil. Begitu pula Tebuireng, tempat Mbah Hasyim Asy’ari beristirahat dalam sunyi yang justru paling ramai.
Di berbagai sudut Nusantara, dari makam Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, hingga para kiai kampung yang namanya tak tercetak di buku sejarah nasional, manusia terus datang, mengetuk sunyi dengan doa.
Fenomena ini sering dibaca sekadar sebagai tradisi keagamaan. Namun sejatinya, ia lebih dalam dari itu. Ziarah adalah bahasa rindu yang tak menemukan padanan kata.
Rindu pada teladan, pada keteduhan, pada sosok yang hidupnya tidak dihabiskan untuk menumpuk harta atau mengejar sorotan, melainkan menyalakan pelita bagi orang lain. Di hadapan makam, manusia modern yang terbiasa berdiri tegak di depan dunia, tiba-tiba belajar menunduk.
Makam para ulama bukan sekadar gundukan tanah. Ia adalah halaman terakhir dari sebuah buku kehidupan yang tebal oleh pengabdian. Di sana terbaring orang-orang yang hidupnya habis untuk mengajar tanpa meminta bayaran, membela umat tanpa menuntut tepuk tangan, dan menegakkan akhlak tanpa membangun panggung. Ketika peziarah datang, sejatinya mereka sedang membaca ulang bab tentang ketulusan yang nyaris hilang dari etalase zaman.
Syaikhona Kholil Bangkalan, misalnya, bukan hanya ulama besar Madura. Ia adalah simpul sejarah yang melahirkan banyak tokoh bangsa, dari Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari hingga para kiai pendiri pesantren besar.
Dari bilik kecil dan laku hidup yang sederhana, ia menanam benih yang kini tumbuh menjadi hutan pendidikan Islam di Indonesia. Datang ke makamnya bukan semata mencari berkah, tetapi meneguk ingatan bahwa perubahan besar sering lahir dari hidup yang senyap.
Begitu pula Mbah Hasyim Asy’ari. Di Tebuireng, nisan beliau berdiri sebagai saksi bahwa ilmu dan keberanian bisa berjalan beriringan. Ia bukan hanya pendiri Nahdlatul Ulama, tetapi juga penjaga moral bangsa di masa gelap penjajahan.
Fatwanya menggerakkan perlawanan, pesantrennya melahirkan kader, dan keteguhannya menjadi tiang bagi Islam Nusantara yang ramah namun tegak. Orang datang ke makamnya bukan karena romantisme masa lalu, melainkan karena masa kini terasa terlalu gaduh oleh kepentingan.
Di zaman ketika tokoh mudah diproduksi oleh kamera dan popularitas bisa dibeli dengan strategi digital, ulama justru hadir sebagai antitesis. Mereka tidak menjual citra, tetapi mewariskan cahaya. Tidak membangun merek pribadi, tetapi membangun manusia. Ziarah lalu menjadi bentuk protes sunyi terhadap dunia yang terlalu sibuk memuja yang viral, lupa menghormati yang substansial.
Ada pula dimensi psikologis yang jarang dibicarakan. Di tengah tekanan hidup, ketidakpastian ekonomi, dan kecemasan sosial, makam ulama menjadi ruang teduh bagi jiwa yang lelah. Di sana tidak ada tuntutan tampil sukses. Tidak ada lomba pencapaian. Yang ada hanya keheningan, doa, dan perasaan kecil di hadapan kematian. Ziarah mengajarkan bahwa sehebat apa pun manusia, akhirnya akan dibaringkan dalam ukuran tanah yang sama.
Bagi banyak orang, makam ulama juga menjadi sekolah keikhlasan yang tak punya papan tulis. Dari batu nisan itu, manusia belajar bahwa hidup tidak diukur dari panjangnya jabatan, melainkan dari dalamnya manfaat. Bahwa nama boleh dilupakan zaman, tetapi kebaikan akan dicatat langit.
Tak mengherankan jika peziarah datang dari jauh, menempuh ratusan kilometer, menunggu berjam-jam, hanya untuk duduk sebentar dan mengirimkan doa. Itu bukan perjalanan fisik semata, melainkan perjalanan batin. Sebuah upaya menambal kekosongan spiritual yang tak bisa diisi oleh gedung tinggi, saldo rekening, atau jumlah pengikut media sosial.
Tradisi ziarah pada akhirnya adalah cara bangsa ini menjaga ingatan moralnya. Ia seperti jangkar yang menahan perahu agar tidak hanyut terlalu jauh oleh arus materialisme. Ketika masyarakat masih ingat jalan ke makam para ulama, itu pertanda bahwa nurani belum sepenuhnya kehilangan alamat.
Di hadapan pusara Syaikhona Kholil, Mbah Hasyim Asy’ari, dan para wali lainnya, manusia belajar satu hal penting: bahwa hidup yang paling panjang bukan yang paling lama bernapas, melainkan yang paling lama dikenang dalam doa.
Dan mungkin, itulah sebabnya makam mereka tak pernah sepi karena dunia yang bising selalu membutuhkan tempat untuk kembali hening, dan hati yang letih selalu mencari teladan untuk percaya bahwa kebaikan, meski sederhana, tak pernah benar-benar mati.
***
*) Oleh : Abdur Rahmad, Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |