TIMES PROBOLINGGO, PROBOLINGGO – Gaya politik kader muda partai politik hari ini menarik untuk dibaca seperti membaca dua wajah dalam satu cermin. Di satu sisi, mereka tampil sebagai simbol harapan, wajah segar yang diyakini mampu memutus mata rantai politik lama yang penuh intrik, transaksi, dan perebutan kuasa.
Namun di sisi lain, tidak sedikit yang justru menjelma sebagai salinan baru dari pola lama: lebih sibuk membangun citra ketimbang membangun gagasan, lebih lihai mengelola panggung daripada mengelola problem rakyat.
Fenomena kader muda parpol ibarat api kecil yang sedang diuji angin. Ia bisa menjadi nyala obor perubahan, tetapi juga bisa padam sebelum sempat memberi terang.
Kita tidak bisa memungkiri bahwa generasi muda kini memiliki ruang yang jauh lebih luas dalam politik. Panggung demokrasi telah membuka pintu lebar bagi anak-anak muda untuk tampil, menjadi caleg, menjadi jubir partai, bahkan menduduki kursi strategis di berbagai struktur kepengurusan.
Namun pertanyaan pentingnya bukan sekadar “apakah anak muda sudah masuk politik?”, melainkan “politik macam apa yang mereka bawa ketika masuk?” Sebab politik bukan soal usia, melainkan soal nilai.
Hari ini, gaya politik kader muda parpol sering terlihat sangat dipengaruhi oleh budaya media sosial. Politik mereka bukan hanya beroperasi di ruang rapat, tetapi juga di ruang algoritma. Mereka berbicara dengan bahasa yang ringkas, cepat, penuh slogan, kadang menyentuh, kadang memikat.
Mereka mengemas politik seperti konten: harus viral, harus trending, harus memancing reaksi. Di titik ini, politik berubah seperti panggung hiburan. Debat gagasan digantikan oleh adu narasi. Keseriusan digantikan oleh sensasi. Keberpihakan digantikan oleh pencitraan.
Yang lebih mengkhawatirkan, politik kader muda kadang kehilangan kesabaran. Mereka ingin perubahan cepat, ingin naik cepat, ingin dikenal cepat. Padahal politik yang sehat tidak lahir dari ketergesaan, melainkan dari ketekunan membaca realitas.
Demokrasi bukan lomba sprint, melainkan maraton panjang yang memerlukan stamina moral. Tidak semua yang cepat naik akan kuat bertahan. Tidak semua yang cepat terkenal akan tetap dipercaya.
Kader muda hari ini juga banyak yang terjebak pada romantisme kekuasaan. Mereka membayangkan politik sebagai jalan pintas untuk menjadi “orang penting”. Maka lahirlah gaya politik yang lebih mementingkan akses elite daripada akses rakyat. Mereka rajin hadir di forum-forum eksklusif, tetapi jarang terlihat di ruang-ruang sunyi tempat rakyat berjuang hidup.
Mereka lancar berbicara tentang “perubahan”, tetapi gagap ketika harus menyebutkan perubahan itu dalam bentuk kebijakan konkret. Politik semacam ini seperti pohon besar yang akarnya dangkal: terlihat gagah, tetapi mudah tumbang saat badai datang.
Kita juga menyaksikan kader muda yang mulai piawai memainkan identitas. Ada yang menjadikan agama sebagai alat mobilisasi, ada yang menjadikan kesukuan sebagai senjata politik, ada pula yang menjadikan “anak muda” sebagai label untuk menjual diri.
Seolah cukup muda saja sudah otomatis progresif. Padahal menjadi muda tidak selalu berarti berpikir maju. Banyak kader muda yang secara usia muda, tetapi secara cara berpikir masih feodal: memuja patron, takut berbeda, dan menggantungkan karier pada restu elite.
Di sinilah paradoksnya: anak muda masuk partai untuk melawan politik lama, tetapi mereka malah terserap menjadi bagian dari sistem lama itu sendiri.
Namun, di tengah kritik tersebut, kita juga harus jujur bahwa tidak sedikit kader muda parpol yang benar-benar membawa energi baru. Mereka memperkenalkan cara komunikasi politik yang lebih terbuka, lebih egaliter, dan lebih responsif.
Mereka mulai berbicara soal isu-isu yang dulu dianggap “pinggiran”: kesehatan mental, perubahan iklim, ketimpangan pendidikan, hak disabilitas, hingga digitalisasi ekonomi rakyat. Mereka mulai menolak politik uang, menolak kampanye penuh janji kosong, dan mulai menekankan pentingnya kerja-kerja advokasi. Mereka hadir seperti embun pagi: kecil, tetapi menyejukkan.
Kader muda yang memiliki idealisme biasanya tampak dari satu hal: keberanian untuk berbeda. Mereka tidak hanya mengikuti arus, tetapi berani menjadi arus baru. Mereka tidak sekadar sibuk membangun elektabilitas, tetapi membangun basis pengetahuan.
Mereka membaca, berdiskusi, turun ke masyarakat, dan menjadikan pengalaman lapangan sebagai sumber kebijakan. Mereka sadar bahwa politik bukan sekadar menang pemilu, tetapi memenangkan kepercayaan publik. Sebab kepercayaan rakyat jauh lebih mahal daripada suara di bilik TPS.
Masalahnya, partai politik sering kali masih memperlakukan kader muda hanya sebagai pelengkap. Anak muda dijadikan pemanis kampanye, dikerahkan untuk meramaikan acara, tetapi tidak benar-benar diberi ruang menentukan arah kebijakan partai.
Mereka disuruh bergerak, tetapi tidak diajak berpikir. Mereka diberi panggung, tetapi tidak diberi kuasa. Akhirnya, banyak kader muda yang frustrasi: idealismenya dikunci oleh struktur, gagasannya dibekukan oleh kepentingan elite.
Dalam situasi seperti ini, kader muda dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama pahit: tetap bertahan sambil kompromi, atau keluar sambil kehilangan kendaraan politik.
Gaya politik kader muda juga sering terbentur pada penyakit lama partai: pragmatisme. Ketika musim pemilu tiba, ideologi partai mendadak cair. Loyalitas bisa diperdagangkan. Posisi bisa dinegosiasikan. Dalam pusaran itu, kader muda yang tidak punya daya tawar sering tersingkir.
Mereka yang punya integritas kalah oleh mereka yang punya modal. Mereka yang punya gagasan kalah oleh mereka yang punya jaringan transaksi. Demokrasi pun berubah menjadi pasar besar, dan kader muda hanya menjadi pedagang kecil yang harus ikut aturan pasar.
Padahal, seharusnya kader muda hadir sebagai koreksi sejarah. Mereka seharusnya menjadi generasi yang mengembalikan politik pada marwahnya: sebagai jalan pengabdian. Politik bukan panggung untuk memperkaya diri, tetapi ruang untuk memperjuangkan kehidupan.
Politik bukan tempat menumpuk privilege, tetapi tempat menghapus ketimpangan. Politik bukan seni mengatur citra, tetapi seni mengatur kesejahteraan. Anak muda seharusnya membawa moral baru dalam politik: keberanian, kesederhanaan, dan konsistensi.
Jika kader muda hanya mengejar jabatan, maka mereka tidak lebih dari “pemain baru” dalam permainan lama. Tetapi jika kader muda mampu membawa tradisi berpikir, budaya dialog, dan keberpihakan yang nyata, maka mereka akan menjadi pembuka jalan bagi demokrasi yang lebih sehat.
Mereka bisa menjadi jembatan antara rakyat dan negara, bukan sekadar perpanjangan tangan elite partai. Indonesia tidak kekurangan anak muda yang pintar berbicara. Indonesia hanya kekurangan anak muda yang berani bertahan dalam prinsip.
Pada akhirnya, gaya politik kader muda parpol akan menentukan wajah demokrasi kita ke depan. Jika mereka memilih jalan pragmatis, maka masa depan politik Indonesia akan tetap dipenuhi kebisingan tanpa substansi.
Tetapi jika mereka memilih jalan ideologis, jalan keberpihakan, jalan pengabdian, maka demokrasi kita akan punya harapan baru: bukan sekadar pergantian generasi, tetapi pergantian cara berpikir.
Dan di situlah tugas besar kader muda: membuktikan bahwa mereka bukan hanya “muda” dalam umur, tetapi juga muda dalam keberanian moral. Sebab bangsa ini tidak hanya butuh politisi yang enerjik, tetapi politisi yang punya nurani. Karena politik tanpa nurani hanyalah kekuasaan yang kehilangan arah, seperti kapal besar tanpa kompas di lautan yang gelap.
***
*) Oleh : Yusuf Ahsan, S.H., Lulusan Ilmu Hukum dan Ketua Angkatan Muda Ka'bah Probolinggo.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |