TIMES PROBOLINGGO, PROBOLINGGO – Di tengah hiruk-pikuk zaman yang gemar mengukur nilai manusia dari jumlah pengikut dan saldo rekening, masih ada sekelompok anak muda yang memilih jalan sunyi: mengukir impian dengan sabar, seperti pemahat yang setia pada batu. Mereka tidak viral, tidak selalu terlihat, tetapi tekun menabung harap di balik peluh.
Mereka bangun pagi bukan untuk pamer kesibukan, melainkan untuk mengejar kemungkinan. Di halte, di warung kopi, di bangku kampus, di ruang sempit kos-kosan, mereka merajut rencana dengan benang tipis bernama keyakinan. Impian mereka bukan istana berlapis emas, melainkan hidup yang pantas: bekerja dengan martabat, pulang tanpa menunduk, dan mencintai tanpa takut masa depan.
Anak muda jenis ini jarang masuk headline. Media lebih suka menyorot sensasi: skandal, flexing, atau drama politik. Padahal, justru di tangan merekalah masa depan negeri ini disimpan seperti benih dalam tanah gelap tak terlihat, tetapi menentukan panen.
Mereka hidup di zaman yang serba cepat, tetapi memilih tekun. Di era “instan”, mereka masih percaya pada proses. Ketika banyak orang menginginkan sukses dalam satu malam, mereka rela menunggu bertahun-tahun, seperti petani yang tak bisa memaksa padi tumbuh esok hari.
Namun jalan mereka tidak pernah benar-benar lapang. Negara sering menyambut impian anak muda dengan formulir panjang, biaya mahal, dan lowongan kerja yang berwajah ramah tetapi bergaji pas-pasan.
Dunia pendidikan menjanjikan masa depan, tetapi kerap lupa menyediakan jembatan menuju pekerjaan yang layak. Politik berbicara tentang generasi emas, tetapi emas itu sering dibiarkan digali sendiri dengan tangan kosong.
Anak muda pun belajar menjadi kuat dengan cara yang sunyi: menelan kecewa, mengunyah kegagalan, lalu bangkit lagi dengan senyum yang dipinjam dari sisa-sisa harapan.
Ada yang bercita-cita menjadi guru, tetapi terjebak di antara honor tipis dan pengabdian tebal. Ada yang ingin menjadi peneliti, tetapi terpaksa bekerja di luar bidang karena perut lebih dulu minta diisi. Ada yang bermimpi membangun usaha, tetapi tersandung modal, izin, dan pasar yang dikuasai pemain lama.
Mereka tidak malas. Mereka hanya hidup di sistem yang sering lebih cepat memuji daripada membantu. Namun justru di situ letak keindahannya: mereka tetap mengukir impian, meski pahatnya tumpul dan batunya keras.
Setiap anak muda yang jujur pada mimpinya sejatinya sedang menulis puisi panjang tentang ketahanan. Tentang bagaimana tetap percaya, meski realitas kerap menampar. Tentang bagaimana menjaga nurani di tengah godaan jalan pintas. Tentang bagaimana memilih lurus, meski tikungan penuh iming-iming.
Mereka bukan malaikat. Mereka juga lelah, ragu, kadang ingin menyerah. Tetapi mereka tahu, menyerah berarti mengubur diri sendiri sebelum sempat tumbuh.
Ironisnya, negara sering memuja anak muda hanya sebagai slogan: bonus demografi, generasi emas, agen perubahan. Kata-katanya indah, tetapi kebijakannya sering terasa jauh. Anak muda dijadikan poster, bukan mitra. Dijadikan angka statistik, bukan subjek yang didengar.
Padahal, bangsa besar tidak lahir dari gedung tinggi semata, tetapi dari anak muda yang diberi ruang untuk gagal, belajar, dan tumbuh.
Jika hari ini masih banyak anak muda mengukir impian di tengah keterbatasan, itu bukan karena sistem sudah adil, tetapi karena mereka terlalu mencintai hidup untuk menyerah begitu saja.
Mereka adalah para pemahat masa depan yang bekerja tanpa panggung. Tangan mereka kotor oleh debu realitas, tetapi mata mereka tetap bersih menatap kemungkinan.
Dan kelak, jika negeri ini berdiri lebih tegak, jangan lupa: fondasinya bukan hanya dibangun oleh pidato pejabat, tetapi oleh anak-anak muda yang dulu sabar memahat harapan di lorong sempit bernama ketidakpastian. Mereka tidak minta diistimewakan. Mereka hanya ingin diberi jalan yang adil, agar impian tak selalu harus dilawan sendirian.
***
*) Oleh : Yusuf Ahsan, S.H., Lulusan Ilmu Hukum dan Ketua Angkatan Muda Ka'bah Probolinggo.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |