TIMES PROBOLINGGO, PROBOLINGGO – Pesantren sering dibayangkan sebagai ruang sunyi: bangunan sederhana, kitab kuning, sarung, dan suara ngaji yang berkejaran dengan waktu subuh. Namun di balik kesahajaan itu, sesungguhnya pesantren adalah dapur besar tempat pikiran bangsa dimasak pelan-pelan, dengan api tradisi dan bumbu keikhlasan.
Sejak jauh sebelum republik ini punya nama, pesantren sudah lebih dulu menjadi rumah bagi diskusi, perdebatan, dan pembentukan watak intelektual. Di ruang-ruang sempit berlantai tanah itulah santri belajar bukan hanya membaca teks, tetapi juga membaca zaman.
Mereka tidak sekadar menghafal hukum, tetapi menimbang hidup. Tidak hanya diajari benar dan salah, tetapi dilatih sabar menghadapi perbedaan.
Jika universitas modern melahirkan sarjana dengan toga, pesantren melahirkan intelektual dengan keteguhan batin. Dua jalur ini berbeda bentuk, tetapi sejatinya menuju mata air yang sama: pencarian makna.
Pesantren membangun intelektualitas dengan cara yang tidak tergesa-gesa. Di sana, ilmu tidak dikejar seperti target produksi, melainkan dirawat seperti tanaman.
Santri boleh lambat, asal akarnya kuat. Boleh sederhana, asal jiwanya matang. Dalam dunia yang serba instan, pesantren justru memilih jalan sunyi: mendidik manusia secara utuh, bukan sekadar otak yang penuh, tetapi hati yang lapang.
Dari rahim pesantren lahir banyak tokoh bangsa: ulama, pemikir, pemimpin, penulis, bahkan negarawan. Mereka membawa satu ciri khas yang sulit ditiru oleh pendidikan modern: kemampuan menggabungkan logika dengan nurani.
Mereka bisa berdebat keras, tetapi tetap menjaga adab. Bisa berbeda tajam, tanpa harus memutus silaturahmi. Inilah kontribusi terbesar pesantren bagi dunia intelektual Indonesia: etika berpikir.
Di tengah kebisingan media sosial hari ini, di mana pendapat sering dilempar seperti batu dan kebenaran dipelintir seperti karet gelang, tradisi pesantren justru mengajarkan bahwa ilmu harus berjalan seiring dengan kerendahan hati. Bahwa kecerdasan tanpa akhlak hanyalah pisau tajam tanpa sarung mudah melukai siapa saja, termasuk pemiliknya.
Pesantren juga membentuk intelektual yang akrab dengan penderitaan sosial. Banyak santri datang dari keluarga sederhana, mengenal lapar, mengerti keterbatasan, dan terbiasa hidup hemat. Pengalaman ini menumbuhkan kepekaan: ilmu tidak boleh tinggal di menara gading, tetapi harus turun ke jalan kampung, menyentuh tanah, dan mendengar suara rakyat kecil.
Itulah sebabnya, pemikiran yang lahir dari pesantren sering tidak melayang-layang di langit teori, tetapi membumi dalam bahasa yang bisa dipahami tukang becak, petani, dan pedagang pasar. Intelektual pesantren tidak alergi pada debu realitas.
Di sisi lain, pesantren juga terus beradaptasi. Banyak pesantren kini membuka diri pada ilmu modern: sains, teknologi, ekonomi, bahkan kecerdasan buatan. Kitab kuning tidak ditinggalkan, tetapi didialogkan dengan buku putih berbahasa asing.
Tradisi tidak dimuseumkan, melainkan diajak berjalan berdampingan dengan zaman. Di sinilah pesantren menunjukkan kecerdasannya: tidak hanyut, tetapi juga tidak beku.
Ia seperti perahu tua yang tetap kokoh mengarungi laut digital. Layarnya mungkin sederhana, tetapi arah kompasnya jelas.
Dalam konteks kebangsaan, pesantren memainkan peran penting sebagai penyangga akal sehat publik. Ketika wacana politik memanas, pesantren sering menjadi ruang pendingin. Ketika ideologi ekstrem mencoba menyusup, pesantren menjadi benteng moderasi. Ketika kebencian dikapitalisasi, pesantren menawarkan bahasa damai.
Dunia intelektual bangsa membutuhkan jenis pemikir seperti ini: yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu menenangkan; yang tidak sekadar mengkritik, tetapi juga menuntun; yang tidak hanya membongkar masalah, tetapi ikut memikul beban solusi.
Tantangannya, tentu tidak kecil. Pesantren masih sering dipinggirkan dalam peta besar kebijakan pendidikan. Peran intelektual santri kerap direduksi sebatas “tokoh agama”, seolah pikirannya hanya relevan untuk urusan mimbar dan doa. Padahal, sejarah membuktikan bahwa pesantren adalah laboratorium sosial, politik, dan budaya yang tak kalah suburnya dari kampus mana pun.
Jika bangsa ini ingin memiliki wajah intelektual yang tidak kering nilai, tidak bengis dalam perbedaan, dan tidak sombong dalam pengetahuan, maka pesantren harus terus diberi ruang, didengar suaranya, dan dilibatkan pikirannya.
Sebab di sanalah ilmu diajarkan bukan untuk menaklukkan, tetapi untuk mengerti. Bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk merendahkan hati. Bukan untuk menguasai sesama, tetapi untuk melayani kehidupan.
Pesantren, dengan segala keterbatasannya, telah lama menjadi sumur tua tempat bangsa ini menimba akal dan akhlak sekaligus. Dan selama sumur itu tidak dikeringkan oleh kesombongan zaman, dunia intelektual Indonesia akan selalu memiliki air jernih untuk diminum bersama.
***
*) Oleh : Abdur Rahmad, Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |