Krisis Kompetensi dan Kurikulum Baru MPI Jadi Sorotan di PPMPI UNUJA
Temu Tahunan PPMPI di UNUJA Probolinggo soroti krisis kompetensi pendidik dan luncurkan kurikulum baru MPI untuk menjawab tantangan era Society 5.0.
PROBOLINGGO – PROBOLINGGO- Menjadi tuan rumah Temu Tahunan ke-13 Perkumpulan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (PPMPI), Universitas Nurul Jadid atau UNUJA Probolinggo membuka forum strategis ini pada Rabu (22/7/2026) dengan sorotan tajam terhadap mutu pendidikan Islam nasional.
Mengusung tema "Menavigasi MPI 5.0: Integrasi Kecerdasan Buatan, Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education (OBE), dan Riset Berdampak Menuju Rekognisi Global," pertemuan ini dihadapkan pada kenyataan pahit ancaman inflasi ijazah yang tidak sejalan dengan penguasaan kompetensi di lapangan.
Berlangsung di Utama Raya Beach & Resto, Situbondo, hingga Jumat (24/7/2026), temu tahunan ini terselenggara berkat kerja sama UNUJA Probolinggo dengan pengurus pusat PPMPI di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Sri Rahmi.
Dalam sesi pemaparan materi, Kasubdit Pengembangan Akademik Direktorat PTKI Kementerian Agama RI, Dr. Asro'i, menyampaikan alarm darurat bagi dunia pendidikan tinggi Islam.
Ia menyoroti fenomena komersialisasi pendidikan yang berimbas langsung pada rendahnya mutu lulusan, di mana terjadi apa yang disebut sebagai inflasi IPK namun deflasi kompetensi.
"Tantangan pengembangan akademik saat ini kian kompleks. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) di lingkungan kampus masih banyak mengarah pada kecurangan dan plagiarisme," ungkap Dr. Asro'i di hadapan para peserta.
Ia juga membeberkan data ironis mengenai rendahnya penguasaan dasar keagamaan di kalangan tenaga pendidik, di mana tercatat ada 125 ribu guru PAI, baik ASN maupun non-ASN, yang belum mampu membaca dan menulis Al-Qur'an (BTQ) dengan baik.
Selain itu, meski Indonesia berada di peringkat ke-38 dunia dalam hal publikasi ilmiah, efektivitas riset tersebut terhadap penyelesaian masalah-masalah sosial di masyarakat masih dinilai minim.
Menanggapi tantangan tersebut, Rektor UNUJA Probolinggo, Dr. Najiburrahman menegaskan, kampus harus mampu keluar dari menara gading dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan masyarakat. Menurutnya, kasta tertinggi sebuah perguruan tinggi adalah menjadi entrepreneurship university.
"Di berbagai belahan dunia, kampus-kampus maju selalu mengembangkan inovasi dan teknologi yang langsung dimanfaatkan oleh dunia industri agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat luas," tegasnya.
Ia juga berpesan agar sekat-sekat pemisah antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) segera dihilangkan demi kemajuan bersama pendidikan nasional.
Sebagai langkah konkret menjawab berbagai krisis dan tantangan zaman, Ketua Umum PPMPI, Prof. Dr. Sri Rahmi, mengumumkan peluncuran kurikulum baru Manajemen Pendidikan Islam (MPI).
Kurikulum mutakhir ini disiapkan sebagai fondasi kuat bagi tata kelola prodi MPI di era Society 5.0.
Pertemuan akbar ini dihadiri oleh 110 peserta yang terdiri dari pimpinan Program Studi MPI dari berbagai PTN dan PTS se-Indonesia, serta jajaran sivitas akademika UNUJA. Nuansa kekayaan budaya Nusantara turut mewarnai sesi pembukaan, di mana para peserta tampak antusias mengenakan baju adat daerah masing-masing.
Melalui momentum peluncuran kurikulum baru dan konsolidasi nasional di Situbondo ini, PPMPI dan UNUJA berharap institusi pendidikan Islam di tanah air mampu bertransformasi menjadi lokomotif peradaban yang adaptif, berintegritas, dan berdaya saing global. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

