Pasien Meninggal setelah Terlantar 30 Jam, Ini Alasan RSUD Waluyo Jati Kraksaan
Pintu masuk RSUD Waluyo Jati Kraksaan.(Foto: Dicko W/TIMES Indonesia)

Pasien Meninggal setelah Terlantar 30 Jam, Ini Alasan RSUD Waluyo Jati Kraksaan

Keluarga almarhum Pauzi (52) warga Desa Alassumur Lor, Kecamatan Besuk,  Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mempertanyakan penanganan medis di RSUD Waluyo Jati Kraksaan, kabupaten setempat.

TIMES Probolinggo,Senin 14 September 2026, 10:07 WIB
424
D
Dicko W

PROBOLINGGOKeluarga almarhum Pauzi (52) warga Desa Alassumur Lor, Kecamatan Besuk,  Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mempertanyakan penanganan medis di RSUD Waluyo Jati Kraksaan, kabupaten setempat. Korban meninggal dunia pada Sabtu (12/9/2026) dan diduga mengalami keterlambatan penanganan lebih dari 30 jam.

Peristiwa bermula saat Pauzi dilarikan ke IGD RSUD Waluyo Jati pada Selasa (8/9/2026) malam pasca-kecelakaan. Pemeriksaan awal menunjukkan gegar otak ringan tanpa pembekuan darah. Keluarga diberitakan luka akan segera dijahit sekaligus dioperasi oleh tiga dokter spesialis, namun rencana itu tak kunjung terealisasi.

"Dikatakan tidak dijahit dulu karena akan sekalian saat operasi. Korban dipindah ke Ruang Cempaka, hanya diberi obat, tanpa kepastian jadwal operasi," ungkap Sabri, sepupu korban, Senin (14/9/2026).

Operasi baru dilaksanakan Kamis (10/9) malam saat kondisi korban sudah memburuk. Setelah dipindahkan ke ICU, rumah sakit baru menginformasikan adanya patah tulang rusuk yang menembus paru-paru dan perlu pemasangan selang.

"Saya sudah minta dirujuk sejak awal, tapi rumah sakit bilang masih sanggup. Baru setelah operasi diketahui ada tulang rusuk yang melukai paru-paru. Terlambat ditangani, akhirnya meninggal," tegas Sabri.

Bantah Pasien Ditelantarkan

Menanggapi kasus itu, Direktur RSUD Waluyo Jati Kraksaan, dr. Yessi Rahmawati, beralasan bahwa pasien tidak pernah ditelantarkan. Ia menjelaskan korban tiba pada 8 September pukul 19.50 WIB dalam kondisi cedera berat disertai penurunan kesadaran, dengan temuan patah tulang rusuk serta perdarahan di rongga dada.

"Pasien telah memperoleh pemeriksaan lengkap: CT scan, rontgen, USG, pemeriksaan laboratorium, transfusi darah, pemasangan selang dada, operasi, hingga pemasangan implan pada tulang tangan dan kaki. Penanganan dilakukan oleh empat dokter spesialis sekaligus," aku dr. Yessi.

dr. Yessi menyampaikan, penanganan cedera dada memerlukan keahlian khusus Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular. Pihak rumah sakit sejak awal telah berupaya merujuk ke Malang, Surabaya, maupun Jember, namun seluruh rumah sakit yang dihubungi belum dapat menerima pasien karena kapasitas tempat tidur penuh. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Dicko W
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Probolinggo, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.