DPRD Jatim Sosialisasikan Nilai Agama di Probolinggo, Perkuat Toleransi Masyarakat
DPRD Provinsi Jawa Timur berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menanamkan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari sebagai dasar membangun karakter yang berakhlak serta memperkuat sikap toleransi di tengah masyarakat.
Probolinggo – DPRD Provinsi Jawa Timur menggelar kegiatan sosialisasi bertema “Menanamkan Nilai Agama dalam Kehidupan Sehari-hari untuk Membangun Karakter yang Berakhlak dan Toleran” di Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Minggu (8/3/2026).
Sosialisasi tersebut menjadi bagian dari upaya edukasi publik untuk menanamkan nilai moral dan memperkuat harmoni sosial di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.
Mahdi, Anggota DPRD Komisi C Provinsi Jawa Timur, mengatakan bahwa penanaman nilai agama tidak hanya berkaitan dengan praktik ibadah, tetapi juga harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

“Nilai agama pada dasarnya mengajarkan manusia untuk hidup dengan prinsip moral yang kuat. Ketika nilai itu benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, maka akan lahir masyarakat yang berakhlak dan mampu menghargai perbedaan,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan nilai agama menjadi penting untuk menjaga keseimbangan kehidupan sosial di tengah dinamika masyarakat yang terus berkembang.
“Ketika masyarakat memiliki fondasi nilai yang kuat, maka hubungan sosial akan berjalan lebih harmonis. Nilai agama menjadi pedoman untuk membangun sikap saling menghormati, saling membantu, dan menjaga persaudaraan,” katanya.
Mahdi menambahkan bahwa penanaman nilai moral perlu diperkuat melalui berbagai ruang sosial, mulai dari lingkungan keluarga, pendidikan, hingga kehidupan bermasyarakat.

“Karakter yang berakhlak tidak lahir secara instan. Ia harus dibangun melalui pendidikan, keteladanan, serta kebiasaan yang terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, narasumber Yatimul Ainun menekankan bahwa nilai agama memiliki peran penting dalam membentuk karakter individu sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
“Agama bukan hanya dipahami sebagai ritual, tetapi juga sebagai pedoman moral dalam kehidupan. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial merupakan bagian dari ajaran agama yang harus dipraktikkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ketika nilai agama benar-benar diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari, maka akan terbentuk karakter masyarakat yang memiliki integritas serta kepedulian terhadap sesama.
“Penanaman nilai agama akan membantu membangun karakter yang kuat. Masyarakat akan lebih mudah menumbuhkan sikap saling menghormati dan menjaga hubungan sosial yang baik,” katanya.
Menurutnya, pendidikan karakter berbasis nilai agama juga membutuhkan peran bersama antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.
“Semua elemen masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk menanamkan nilai moral kepada generasi muda agar mereka tumbuh dengan karakter yang baik,” ujarnya.
Sementara itu, M. Amin Haddar menyoroti pentingnya nilai toleransi sebagai bagian dari implementasi ajaran agama dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.
“Indonesia memiliki keberagaman suku, budaya, dan keyakinan. Dalam situasi seperti ini, nilai toleransi menjadi sangat penting untuk menjaga harmoni kehidupan bersama,” ujarnya.
Ia menilai bahwa pemahaman agama yang inklusif dapat menjadi kekuatan untuk memperkuat persatuan di tengah masyarakat.
“Agama pada dasarnya mengajarkan manusia untuk menghormati sesama. Ketika nilai itu dipahami dengan benar, maka masyarakat akan lebih mudah menerima perbedaan,” katanya.
Menurutnya, dialog dan komunikasi yang terbuka antarwarga juga menjadi kunci penting dalam menjaga stabilitas sosial.
“Perbedaan tidak seharusnya menjadi sumber konflik. Justru melalui perbedaan itu kita bisa belajar untuk saling memahami dan membangun kehidupan yang lebih harmonis,” pungkasnya.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



