Khidmat, Bupati Probolinggo Senandungkan Puisi Syahdu di Apel Akbar PCNU Kraksaan
Bukan sekadar pidato formal, Gus Haris memilih jalan sastra untuk menyampaikan rasa takzim dan penghormatan mendalam kepada jam'iyah Nahdlatul Ulama.
PROBOLINGGO – Suasana khusyuk dan penuh khidmat menyelimuti kawasan Pantai Bentar, Kabupaten Probolinggo.
Ribuan warga Nahdliyin yang memadati lokasi Apel Akbar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kraksaan, Minggu (29/6/2026), terdiam dalam keheningan syahdu saat Bupati Probolinggo, Dr Muhammad Haris, tampil membawakan sebuah puisi.
Di hadapan para ulama, kiai, pengurus, dan ribuan kader NU, pria yang akrab disapa Gus Haris ini melantunkan bait-bait sastra bertajuk "NAHDLATUL ULAMA: Cahaya yang Tak Pernah Padam".
Bukan sekadar pidato formal, Gus Haris memilih jalan sastra untuk menyampaikan rasa takzim dan penghormatan mendalam kepada jam'iyah Nahdlatul Ulama.
Melalui intonasi yang lembut namun tegas, puisi tersebut menggemakan pesan tentang kecintaan pada agama, dedikasi para kiai, serta peran besar NU sebagai pilar penjaga kedamaian dan keutuhan bangsa.
Momen pembacaan puisi ini seolah menyatukan ikatan batin antara umara dan ulama, menciptakan atmosfer kedamaian dan ukhuwah yang kuat di tengah lautan peserta apel.
Puisi ini menjadi refleksi atas jurnalisme dan nilai positif yang terus digaungkan di Kabupaten Probolinggo, di mana kepemimpinan hadir dengan kerendahan hati dan merangkul semua elemen masyarakat.
Berikut adalah lirik lengkap puisi penuh makna yang disandungkan oleh Gus Haris dalam Apel Akbar PCNU Kraksaan tersebut:
NAHDATUL ULAMA
Cahaya yang Tak Pernah Padam
NU…
Bukan sekadar nama yang terukir di lembar sejarah,
tetapi doa-doa yang menjelma langkah.
Bukan sekadar organisasi,
melainkan rumah tempat jutaan hati pulang
untuk belajar mencintai Allah,
Rasul-Nya,
dan sesama manusia.
Di serambi-surambi pesantren,
di lantunan shalawat yang menggetarkan langit,
di suara ngaji selepas Maghrib,
engkau menanamkan cahaya
yang tak pernah meminta tepuk tangan.
Engkau mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan adab,
bahwa tinggi bukan karena jabatan,
tetapi karena kerendahan hati.
Bahwa perbedaan bukan alasan bermusuhan,
melainkan jalan untuk saling mengenal.
NU…
Engkau tumbuh dari tangan para ulama,
disiram air mata para kiai,
dipagari keikhlasan para santri,
dan dibesarkan oleh cinta umat
yang tak pernah mengenal pamrih.
Seperti pohon tua yang akarnya menghunjam bumi,
engkau kokoh diterpa zaman.
Daunmu menaungi siapa saja,
rantingmu merangkul siapa pun,
buahmu menjadi keberkahan
bagi negeri yang bernama Indonesia.
Semoga engkau tak pernah lelah NU
menjadi penyejuk ketika dunia memanas,
menjadi pelita ketika hati mulai gelap,
menjadi jembatan ketika manusia terpecah.
Ya Allah…
Panjangkan usia pengabdian Nahdlatul Ulama.
Jagalah para ulama, para masyayikh, para habaib, para kiai, para santri,
dan seluruh ummat yang mengabdi dengan ikhlas.
Satukan langkah mereka,
lapangkan hati mereka,
kuatkan istiqamah mereka,
Teguhkan persaudaraan mereka
Karena NU terlalu besar untuk diperebutkan, tetapi terlalu mulia untuk tidak dijaga.
Semoga
Nahdlatul Ulama akan selalu menjadi mata air kebijaksanaan,
tempat bangsa belajar tentang ilmu, adab, cinta,
dan kemanusiaan.
Selamat berkhidmat, wahai Nahdlatul Ulama.
Teruslah menjadi teduh bagi umat,
menjadi pelita bagi bangsa,
dan menjadi jalan yang mengantarkan sebanyak-banyaknya manusia
menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pantai Bentar, 28 Juni 2026.
Dr Muhammad Haris (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

