17 Suspek Campak Terdeteksi dalam Dua Bulan Terakhir, Dinkes Minta Warga Tak Abaikan Gejala
Dinas Kesehatan dan P2KB Kota Probolinggo mencatat adanya 17 warga yang masuk dalam kategori suspek campak.
PROBOLINGGO – Sepanjang Januari hingga Februari 2026, Dinas Kesehatan dan P2KB Kota Probolinggo mencatat adanya 17 warga yang masuk dalam kategori suspek campak. Temuan ini menjadi perhatian serius. Oleh karenanya Dinkes dan P2KB minta warga jangan abaikan gejala.
Diketahui, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat terjadi 8.224 kasus suspek campak dengan 4 kasus kematian hingga akhir Februari 2026 ini. Jumlahnya diprediksi bertambah mengingat penularannya relatif cepat.
Sementara Di Kota Probolinggo, Dinkes dan P2KB memberikan data yang cukup mencengangkan. hingga pekan ke-empat Februari 2026, terdapat sedikitnya 17 suspek campak. Jumlah kasus ini terbilang tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Dalam dua bulan pertama tahun ini saja kami mencatat 17 orang suspek. Mereka menunjukkan gejala khas campak, tapi kami tetap harus menunggu konfirmasi laboratorium," ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Probolinggo, drg. Asri Wahyuningsih, Jumat (27/2/2026).
Ia mengungkapkan ke-17 suspek tersebut saat ini masih dalam proses pemeriksaan laboratorium untuk memastikan statusnya. Hasilnya akan menentukan langkah medis selanjutnya.
Gejala yang muncul pada para suspek antara lain demam tinggi, batuk kering atau pilek, sakit tenggorokan, mata merah, hingga ruam merah gatal yang biasanya dimulai dari belakang telinga dan menyebar ke seluruh tubuh.
Gejala-gejala ini kerap disalahartikan sebagai penyakit kulit biasa atau alergi, sehingga banyak masyarakat yang datang berobat dalam kondisi sudah lanjut.
Dinkes mencatat, penularan campak terjadi melalui droplet atau percikan air liur saat penderita batuk atau bersin. Hal ini membuat penyakit ini mudah menyebar di lingkungan padat penduduk atau fasilitas umum jika tidak ada kewaspadaan.
"Penularannya cepat, makanya deteksi dini itu penting. Jangan menunggu sampai ruam menyebar luas baru dibawa ke fasilitas kesehatan," kata drg. Asri.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kota Probolinggo terus menggencarkan penyuluhan ke masyarakat tentang pentingnya mengenali gejala awal campak.
Edukasi mengenai Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga digalakkan, termasuk kebiasaan mencuci tangan dan menggunakan masker saat sakit.
"Kalau ada anggota keluarga yang mengalami gejala demam disertai ruam, segera periksakan. Lebih cepat ditangani, lebih baik," imbuhnya.
Dengan temuan 17 suspek hanya dalam kurun waktu dua bulan, Dinkes berharap masyarakat tidak lagi menyepelekan gejala-gejala yang muncul. Kewaspadaan dini dianggap sebagai kunci utama mencegah meluasnya penularan campak di Kota Probolinggo. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



