Tiga Versi Awal Puasa di Indonesia: Muhammadiyah, Pemerintah, dan Jemaah Aboge Probolinggo
Ramadan tahun ini menjadi momen unik bagi umat Islam di Indonesia. Tiga versi awal puasa muncul bersamaan diantaranya Muhammadiyah menetapkan 18 Februari, pemerintah memutuskan 19 Februari, dan Jemaah Aboge di Kabupaten Probolinggo punya hitungan sen
BANYUWANGI – Ramadan tahun ini menjadi momen unik bagi umat Islam di Indonesia. Tiga versi awal puasa muncul bersamaan diantaranya Muhammadiyah menetapkan 18 Februari, pemerintah memutuskan 19 Februari, dan Jemaah Aboge di Kabupaten Probolinggo punya hitungan sendiri yang berbeda dari keduanya.
Komunitas muslim kejawen yang bermukim di beberapa Kecamatan di Kabupaten Probolinggo ini memutuskan memulai puasa pada Kamis Pahing atau bertepatan dengan 19 Februari 2026. Tanggal itu sama dengan versi pemerintah, namun metode penetapannya jelas berbeda.
"Kami tidak menggunakan hisab atau rukyat seperti organisasi Islam modern. Hitungan kami murni warisan leluhur menggunakan kalender Islam Jawa," kata Kyai Buri Bariyeh, sesepuh Aboge, saat ditemui usai melaksanakan salat tarawih perdana, Rabu (18/2/2026) malam.
Aboge sendiri merupakan akronim dari Alip Rebo Wage, sistem penanggalan yang menghitung 1 Muharram tahun Alif jatuh pada hari Rabu Wage. Tahun ini, berdasarkan perhitungan mereka, termasuk tahun Daltugi atau Dal Saptu Legi. Dengan pola Don Nem Ro, di mana Romadhon berada pada angka 6-2, maka 1 Ramadan jatuh pada Kamis Pahing.
Kyai Buri menjelaskan, salat tarawih pertama mereka laksanakan pada Rabu malam, setelah Isya. Sementara esok harinya, Kamis 19 Februari, mereka akan memulai puasa Ramadan hingga 30 hari ke depan.
"Setelah genap 30 hari berpuasa, Insyaallah kami akan merayakan Idul Fitri pada Sabtu, 21 Maret 2026. Itu sudah sesuai hitungan Wal Ji Ro," imbuhnya.
Perbedaan metode ini tidak membuat Jemaah Aboge merasa asing di tengah masyarakat. Sebaliknya, mereka justru menjadi pengingat bahwa Islam di Nusantara tumbuh dengan khazanah lokal yang kaya. Di Probolinggo, komunitas ini sudah puluhan tahun menjalankan ibadah dengan cara yang diwariskan turun-temurun.
"Masyarakat di sini sudah saling memahami. Kami menghormati yang memulai puasa lebih dulu, mereka juga menghormati kami yang memulai sesuai hitungan Aboge. Yang penting niat ibadahnya sama," tambah Kyai Buri Bariyeh
Diketahui, di kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo ada ratusan Jamaah Aboge. Mereka tetap menjaga tradisi, dan toleransi.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




