TIMES PROBOLINGGO, PROBOLINGGO – Suara adzan Ashar terdengar sayup dari Masjid Saka 9, bangunan khas dengan sembilan tiang penyangga yang kokoh berdiri di kawasan Pondok Pesantren Nurul Qodim 3. Di balik keheningan itu, tersimpan kisah perjuangan para pemuda yang tengah berjuang melepaskan diri dari jeratan gelap narkoba.
Pada Kamis (3/4/2025), Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, datang mengunjungi tempat tersebut. Bukan tanpa alasan, kehadirannya menjadi wujud nyata perhatian pemerintah terhadap upaya rehabilitasi pecandu narkoba.
Ponpes yang terletak di Desa Kalikajar Kulon, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo ini dikenal dengan sebutan SAKA 9. Dipimpin oleh KH. Hafidzul Hakiem Noer atau Gus Hafidz, ponpes ini bukan pesantren biasa. Ia didirikan sebagai ruang rehabilitasi berbasis spiritual dan keterampilan bagi para pecandu narkoba yang ingin berubah.
Dalam kunjungannya, Gus Ipul menegaskan pentingnya dukungan kepada kelompok rentan seperti pecandu narkoba.
“Kami ingin memastikan bahwa upaya ini dapat berjalan dengan baik dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Narkoba tidak hanya merusak penggunanya, tetapi juga masa depan keluarganya dan bangsa ini,” tegasnya.
Ia menambahkan, rehabilitasi sosial adalah tanggung jawab bersama, bukan semata tugas pemerintah. Oleh karena itu, Mensos berkomitmen memperkuat program SAKA 9 dengan mengirimkan tim ahli serta menjalin sinergi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN).
“Saya mengapresiasi upaya yang dilakukan Gus Hafidz dalam mendirikan pesantren rehabilitasi ini. Ini adalah langkah yang sangat baik, karena memberi kesempatan bagi mereka yang ingin memperbaiki diri. Jika program ini berhasil, maka ini akan menjadi hal yang sangat mulia,” lanjutnya.
Gus Hafidz sendiri adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo dan aktif dalam gerakan pemuda melalui majelis sholawat Syubbanul Muslimin. Dari interaksinya dengan anak-anak muda di Probolinggo, ia melihat fakta yang mengkhawatirkan, banyak dari mereka terjerat narkoba, namun punya semangat untuk berubah.
“Banyak yang ingin bertaubat, tetapi merasa sulit mendapatkan tempat yang bisa memahami kondisi mereka. Oleh karena itu, kami mendirikan SAKA 9 sebagai tempat khusus untuk rehabilitasi dengan pendekatan mental, spiritual, dan keterampilan,” jelasnya.
Program rehabilitasi di SAKA 9 dibagi dalam tiga fase, disesuaikan dengan tingkat keparahan kecanduan. Selain pembinaan spiritual, mereka juga diberi pelatihan keterampilan agar mampu hidup mandiri selepas program.
Tak hanya itu, nama SAKA 9 sendiri punya makna mendalam. Secara arsitektural, masjid pesantren ini memiliki sembilan tiang utama. Dalam bahasa Jawa, “saka” berarti tiang, dan angka sembilan sering dihubungkan dengan Wali Songo, sembilan wali penyebar Islam di Jawa.
Nama itu bukan sekadar simbol, tapi juga mencerminkan harapan, agar SAKA 9 menjadi pilar kuat yang membimbing mereka yang ingin kembali ke jalan yang benar, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual dan moral.(*)
Pewarta | : Abdul Jalil |
Editor | : Ferry Agusta Satrio |