TIMES PROBOLINGGO, PROBOLINGGO – Sedikitnya 1.379 rumah warga Kabupaten Probolinggo, Jatim, terdampak bencana hidrometereologi, pertengahan bulan ini. Sejumlah jembatan, plengsengan dan fasilitas pendidikan juga rusak.
Berkaca pada rentetan bencana tersebut, Bupati Probolinggo, dr. Mohammad Haris atau Gus Haris meminta, paradigma penanganan bencana di wilayahnya harus bergeser dari pola reaktif menjadi kesiapsiagaan proaktif.
Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanggulangan Bencana di Pendopo Kabupaten Probolinggo, Senin (19/1/2026).
Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan warga menjadi prioritas tertinggi di tengah ancaman cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan berlangsung hingga Maret mendatang.
Gus Haris menegaskan, efektivitas perlindungan masyarakat sangat bergantung pada kecepatan pemerintah dalam merespons potensi ancaman.
“Kita tidak boleh menunggu bencana datang baru bergerak. Penanganan tidak boleh dilakukan secara reaktif. Pemerintah harus hadir lebih awal, lebih cepat, dan lebih sigap agar masyarakat merasa terlindungi,” tegas Bupati Haris.
Langkah ini menjadi jawaban atas dampak nyata yang dialami wilayah Probolinggo akibat cuaca ekstrem pada tanggal 11, 16, dan 17 Januari 2026. Dalam rentang waktu tersebut, alam memberikan peringatan keras melalui rangkaian banjir, tanah longsor, hingga angin kencang yang melumpuhkan sebagian aktivitas warga.
Laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggambarkan situasi yang cukup masif. Hantaman banjir dan angin kencang tercatat telah berdampak langsung pada 1.379 unit pemukiman.
Kecamatan Tongas menjadi titik terparah dengan 590 keluarga yang terdampak, diikuti oleh Kecamatan Krejengan dengan 446 keluarga. Dampak serupa juga dirasakan ratusan warga lainnya di wilayah Sumberasih, Maron, hingga Leces.
Keganasan cuaca tidak hanya menyasar pemukiman, namun juga merusak urat nadi infrastruktur wilayah. Lima jembatan dilaporkan putus total. Termasuk akses vital di Desa Banjarsari, Jangur, Brani Wetan, hingga Kalianan, yang mengakibatkan terhambatnya mobilitas logistik dan warga.
Selain itu, tiga jembatan lainnya mengalami kerusakan struktur, delapan unit plengsengan jebol, hingga ambruknya ruang kelas di SDN Sumberkare 1, Kecamatan Wonomerto, yang menjadi potret kerentanan fasilitas publik saat ini.
Situasi ini semakin mendesak mengingat peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG Juanda. Prakiraan cuaca menunjukkan bahwa potensi hujan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang masih akan menyelimuti Kabupaten Probolinggo selama periode Januari hingga Maret 2026.
Sementara itu, Wakil Bupati Probolinggo, Fahmi AHZ menekankan, rentetan peristiwa di awal tahun ini harus menjadi pijakan evaluasi yang fundamental. Ia menginginkan agar setiap kebijakan penanganan didasarkan pada asesmen yang akurat dan langkah mitigasi yang bisa dilakukan sejak dini.
“Evaluasi ini penting agar respons kita lebih cepat dan terukur. Kejadian yang telah berlalu harus menjadi pembelajaran besar bagi kita semua,” ujar Wabup Fahmi.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemkab Probolinggo kini mengandalkan platform BPBD GERCEP SAE (Gerak Cepat, Terpadu, Berbasis Kecamatan dan Desa).
Dengan pola ini, BPBD bertindak sebagai pusat komando teknis, sementara kecamatan dan Desa Tangguh Bencana (Destana) diperkuat fungsinya sebagai ujung tombak peringatan dini dan respons lapangan, guna memastikan mitigasi berjalan hingga ke tingkat akar rumput. (*)
| Pewarta | : Muhammad Iqbal |
| Editor | : Muhammad Iqbal |