TIMES Probolinggo/Polda Metro Jaya saat mengungkap kasus penipuan dengan modus mengaku-ngaku hacker Bjorka. (FOTO: Antara)

Polda Metro Jaya mendalami identitas WFT, pemuda asal Minahasa yang ditangkap karena meretas data bank. Polisi curigai ia hanya peniru hacker ‘Bjorka’.

TIMES Probolinggo,Sabtu 4 Oktober 2025, 13:47 WIB
473.5K
F
Ferry Agusta Satrio

JAKARTAPolda Metro Jaya masih terus mendalami identitas WFT (22), pemilik akun X @bjorkanesiaaa yang baru-baru ini ditangkap karena diduga meretas data nasabah dari sebuah bank swasta. Penyelidikan dilakukan untuk memastikan apakah WFT merupakan hacker misterius ‘Bjorka’ yang sempat membuat heboh publik Indonesia, atau hanya sekadar meniru nama besar itu.

“Pendalaman-pendalaman lainnya masih terus dilakukan terkait dengan kesamaan nama, ini juga masih terus dilakukan,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Brigjen Ade Ary Syam Indradi, Sabtu (4/10/2025), melansir Suara.com.

Dari hasil pemeriksaan, polisi menemukan bahwa WFT adalah seorang pemuda asal Kakas Barat, Minahasa, Sulawesi Utara, yang selama ini mengaku sebagai Bjorka. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa WFT bukanlah seorang ahli teknologi informasi (IT).

“Jadi yang bersangkutan ini bukan ahli IT dan tidak lulus SMK,” kata Wakil Direktur Siber Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, AKBP Fian Yunus, di Jakarta, Kamis (2/10/2025).

Fian menjelaskan, sehari-hari WFT tidak memiliki pekerjaan tetap. Namun, ia aktif belajar tentang dunia teknologi secara otodidak melalui berbagai komunitas IT di media sosial. “Dia mempelajari segala sesuatu hanya dari komunitas-komunitas IT di media sosial,” ujarnya.

Motif Uang di Balik Aksi Peretasan

Sementara itu, Kasubdit IV Ditres Siber Polda Metro Jaya, AKBP Herman Edco Wijaya Simbolon, menyebut motif utama pelaku hanyalah untuk mendapatkan uang.
“Motivasinya adalah masalah kebutuhan, masalah uang. Semua aktivitas yang dilakukan sejauh ini bertujuan untuk mencari uang,” kata Herman.

Dari hasil penyidikan, diketahui bahwa WFT telah aktif bertransaksi data ilegal di dark web sejak tahun 2020. Ia menggunakan berbagai nama samaran, antara lain Bjorka, SkyWave, Shint Hunter, dan Oposite6890, guna menyamarkan identitasnya di dunia maya.

Fian menambahkan, WFT diduga memperjualbelikan data dari sejumlah institusi dalam dan luar negeri, termasuk perusahaan swasta dan sektor kesehatan. Nilai transaksi yang dilakukan mencapai puluhan juta rupiah untuk satu kali penjualan, dan seluruh pembayarannya dilakukan menggunakan mata uang kripto.

“Berapa uang yang didapatkan ini juga belum bisa kita pastikan. Tapi pengakuannya, sekali menjual data bisa mencapai puluhan juta rupiah,” ungkap Fian. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Ferry Agusta Satrio
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Kabupaten/Kota Probolinggo, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.