TIMES PROBOLINGGO, PROBOLINGGO – Kemiskinan sebagai problem akut di masyarakat tidak hanya menjadi persoalan hangat obrolan orang jakarta dan daerah tapi juga harus menjadi bahan obrolan utama bagi para pemangku kebijakan di tingkat kabupaten dan kota.
Kabupaten dan kota yang masih berada di tataran bawah seperti Kabupaten Probolinggo harus dan wajib hukumnya bagi pemerintah daerah untuk terus mengangkat masyarakatnya dari jurang kemiskinan.
Salah satunya dengan peningkatan indeks pembangunan manusian (IPM), jika melihat statistik yang dikeluarkan oleh BPS Kabupaten Probolinggo tahun 2024, kabupaten ini bertengger di posisi ke tiga terbawah se jatim dan nomor satu terbawah di area tapal kuda yang disusul lumajang dan bondowoso.
Padahal didalamnya terdapat orang hebat, pesantren hebat dan letak geografis yang strategis, tapi mengapa kok terbelakang? Untuk menjawab tantangan tersebut tentu tidak selesai dalam selembaran tulisan tapi setidaknya penulis mengingatkan:
Pertama, pemerintahan masih sangat belia untuk sempurna sehingga sangat diperlukan otokritik untuk membangun bersama.
Kedua, penulis sangat cinta dengan kabupaten tempatnya dilahirkan maka satu argumen sangat dan perlu diperhatikan dan direnungkan bersama.
Ketiga, untuk menjadi bahan obrolan terutama bagi daerah-daerah yang memiliki senasib sepertaruhan.
Perguruan Tinggi Negeri dan peningkatan IPM
Mengapa harus Perguruan Tinggi Negeri? Kan sudah ada Perguruan Tinggi Swasta dan berbasis Pesantren? Untuk menjawab itu mari kita bersama-sama untuk merenungi kondisi kabupaten tercinta kita ini.
Salah satu kekurangan yang harus segera dibangun dan dilengkapi adalah pendidikan tinggi negeri (baik PTN/PTKIN), memang ini tidak mudah dan cenderung agak sulit tapi jika mau bukan tidak mungkin untuk dilakukan.
Salah satu alasan kenapa orang berpendidikan di probolinggo lebih memilih untuk keluar dari probolinggo adalah tidak adanya perguruan tinggi negeri di kabupaten ini sehingga para sarjanawan yang memiliki kapasitas dan kapabilitas lebih memilih untuk berkarir di luar kabupaten dari pada berkarir di dalam kabupaten karena secara infrastruktur didalamnya masih belum tersedia.
Bukan lagi para profesional tentu lebih memilih untuk bekerja di daerah lain dengan pertimbangan UMR disana lebih tinggi, iklim sosial yang lebih proper untuk para pekerja profesional. Pendek kata bukan SDM nya yang rendah tapi infrastrukturnya yang kurang bahkan tidak ada.
Dari rilisi BPS mutakhir, pada tahun 2023 posisi jabatan tinggi utama, madya dan formasi dosen mendapat angka 0, sementara terdapat 25 orang yang menduduki posisi sebagai jabatan tinggi pratama. Itu artinya banyak SDM kita yang terbuang secara cuma-cuma ke kabupaten lain.
Akibatnya orang-orang yang profesional dan memiliki kapasitas dan mendorong peningkatan IPM kini sudah dimiliki dan menjadi warga kabupaten lain sebagai tempat labuan karir mereka.
Perguruan Tinggi Negeri sebagai Solid Sistem
Perguruan tinggi negeri di Probolinggo menjadi solid sistem yang saling menguatkan dengan perguruan swasta dan pesantren, ia akan memberikan warna yang berbeda. Bukan skeptis terhadap pemangku kebijakan yang lahir dari kalangan pesantren, namun justru karena dari pesantren ini sangat diperlukan untuk saling bersinergi membangun kekuatan sistem pemerintahan yang solutif bagi pertumbuhan prekonomian daerah.
Perguruan tinggi negeri akan menghadirkan perspektif yang berbeda dan menjadi saluran baru yang tidak bisa di salurkan dalam pendidikan tinggi swasta dan pesantren.
Hadirnya perguruan tinggi negeri ini tentu sangat diharapkan karena akan tercipta lapangan kerja baru, tenaga produktif dan melahirkan calon pemimpin hebat masa depan.
***
*) Oleh : Agus Zainal Abidin, Tenaga Pendidik di YPPI Addasuqi dan Dosen FEBI UIN KHAS Jember.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Pewarta | : Hainor Rahman |
Editor | : Hainorrahman |