TIMES PROBOLINGGO, PROBOLINGGO – Di tengah dunia yang bergerak seperti kereta cepat tanpa rem, generasi muda sering dipaksa berlari tanpa sempat bertanya ke mana arah perjalanan. Media sosial menjadi kompas palsu, popularitas dijadikan kiblat baru, dan validasi digital berubah menjadi ukuran harga diri. Dalam hiruk-pikuk itu, jati diri anak muda kerap tercerai-berai seperti kaca yang jatuh di jalanan modernitas: berkilau, tetapi rapuh.
Di sinilah pesantren berdiri sebagai ruang sunyi yang justru menyimpan gema panjang. Ia tidak menawarkan gemerlap, tidak menjual sensasi, tidak pula menjanjikan ketenaran instan. Pesantren hanya menawarkan satu hal yang semakin langka: waktu untuk menjadi manusia.
Pesantren membentuk generasi bukan dengan poster motivasi, melainkan dengan rutinitas yang tampak sederhana: bangun sebelum fajar, mengantre kamar mandi, menghafal di bawah lampu temaram, menyapu halaman tanpa disorot kamera. Dari hal-hal kecil itulah karakter dirajut perlahan, seperti menenun kain dari benang kesabaran.
Di luar sana, anak muda diajari bagaimana terlihat hebat. Di pesantren, mereka belajar bagaimana menjadi kuat tanpa harus terlihat. Dunia memuja suara paling keras; pesantren melatih telinga untuk mendengar. Dunia mengajarkan cara menang; pesantren mengajarkan cara bertahan tanpa kehilangan adab.
Jati diri bukanlah hasil unduhan cepat. Ia tidak lahir dari tutorial lima menit atau seminar sehari. Jati diri tumbuh dari proses panjang: jatuh, salah, ditegur, mengulang, lalu memahami. Pesantren menyediakan ruang aman untuk proses itu. Di sana, gagal bukan aib, melainkan bagian dari pelajaran hidup.
Ketika banyak anak muda hari ini merasa asing di negerinya sendiri lebih fasih bahasa tren daripada bahasa nurani pesantren justru mengajarkan keberanian untuk mengenal akar. Kitab kuning bukan sekadar teks tua, tetapi jendela untuk memahami bagaimana manusia berpikir sebelum dunia tergesa-gesa. Tradisi bukan beban, melainkan jangkar agar generasi tidak hanyut.
Pesantren mengajarkan bahwa menjadi modern tidak harus menjadi lupa. Bahwa mengikuti zaman tidak berarti mengubur nilai. Bahwa kemajuan tanpa arah hanyalah percepatan menuju kebingungan.
Di tengah budaya instan, pesantren mengajarkan seni menunggu. Di tengah logika hasil cepat, pesantren merawat makna proses. Di tengah obsesi “viral”, pesantren menghidupkan kebiasaan “sabar”.
Namun pesantren bukan museum nilai-nilai lama. Ia bukan ruang beku yang menolak perubahan. Pesantren justru adalah laboratorium sunyi, tempat tradisi berdialog dengan zaman. Banyak santri hari ini menguasai teknologi, memahami dunia global, berbicara lintas budaya tetapi tetap tahu bagaimana menundukkan kepala saat ilmu belum cukup.
Inilah kekuatan pesantren: ia tidak mencetak generasi yang hanya pintar bicara, tetapi generasi yang tahu kapan harus diam. Tidak hanya pandai menilai orang lain, tetapi terlatih mengoreksi diri.
Ketika krisis moral melanda ruang publik korupsi menjadi kebiasaan, kebohongan menjadi strategi, dan kekuasaan sering kehilangan malu pesantren berdiri sebagai pengingat sunyi bahwa ilmu tanpa adab hanyalah senjata tanpa pengaman. Tajam, tetapi berbahaya.
Generasi yang lahir dari pesantren tidak selalu menjadi tokoh terkenal. Banyak dari mereka hidup sederhana: menjadi guru desa, penggerak kampung, pendamping umat, atau pekerja biasa yang jujur. Mereka tidak memenuhi headline, tetapi mengisi ruang-ruang kosong dalam kehidupan sosial. Mereka tidak viral, tetapi vital.
Jati diri generasi tidak dibangun oleh jumlah pengikut, melainkan oleh keberanian memegang prinsip saat sendirian. Tidak ditentukan oleh seberapa keras suara di media sosial, tetapi seberapa kuat hati saat diuji godaan.
Pesantren menanamkan itu semua dengan cara yang nyaris tak terdengar. Seperti hujan kecil yang meresap ke tanah, bukan badai yang memekakkan.
Di saat banyak institusi pendidikan sibuk mencetak “manusia siap pakai”, pesantren justru berusaha membentuk “manusia siap makna”. Manusia yang tidak hanya tahu cara hidup, tetapi juga tahu untuk apa hidup.
Maka, ketika generasi muda hari ini bertanya, “Siapa saya di tengah dunia yang berubah terlalu cepat?” pesantren tidak menjawab dengan slogan, melainkan dengan proses panjang: belajar, mengabdi, salah, bangkit, lalu rendah hati.
Dalam dunia yang gemar memproduksi identitas palsu, pesantren mengajarkan keberanian untuk menjadi diri sendiri pelan, sederhana, tetapi berakar.
Dan mungkin, di situlah jati diri generasi menemukan rumahnya: bukan di panggung sorotan, tetapi di ruang sunyi tempat karakter dibentuk, doa dirajut, dan masa depan disiapkan tanpa perlu banyak suara.
***
*) Oleh : Abdur Rahmad, Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |